Jumat, 01 Juni 2012

Pemain Asing Minta Ancaman Mogok APPI Tidak 'Politis'

Jakarta - Dua pemain asing yang memperkuat Persiraja Banda Aceh meminta Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) tidak terseret kepentingan politis terkait tuntutan mereka.

Hari Senin lalu APPI melalui presiden dan wakilnya, Ponaryo Astaman dan Bambang Pamungkas, menggelar konferensi pers untuk menyatakan sejumlah sikapnya, terkait kekisruhan dalam kompetisi di tanah air.

Selain mereka tidak menghendaki lagi dualisme kompetisi, serta diberi perlindungan hak untuk membela tim nasional, mereka juga menuntut pembayaran gaji pemain yang belum dibayarkan. Jika tidak ada tindak lanjut yang jelas, mereka mengancam akan melakukan aksi mogok bermain.

Dua pemain Persiraja, yaitu Diallo Abdoulaye Djibril dan Steven Mennoh, mempertanyakan motif APPI dengan pernyataan sikapnya itu. Mereka mendukung setiap upaya agar gaji pemain dibayar, tapi tidak mau terjebak pada kontroversi yang lain.

"Saya katakan pada mereka (APPI), kami tidak mau dibawa-bawa ke urusan yang sifatnya politis dari situasi persepakbolaan Indonesia saat ini. Urusan kami di sini adalah bagaimana supaya gaji dibayarkan," cetus Djibril kepada detiksport, Kamis (31/5/2012).

Mennoh menimpali, ada perbedaan permasalahan pemain klub ISL dan IPL, walaupun kebanyakan mereka sama-sama tertunggak gajinya selama beberapa bulan.

"Kalau mereka (pemain-pemain ISL) mogok, mereka tidak terkena dampak apa-apa karena FIFA tidak mengakui kompetisi ilegal. Tapi ini bisa mendatangkan masalah tersendiri buat kami yang bermain di IPL," tutur gelandang asal Liberia itu.

Baik Mennoh maupun Djibril menambahkan, jika aksi mogok memang harus dilakukan, akan lebih tepat jika dilakukan pada klub masing-masing, karena yang paling bertanggung jawab penuh soal gaji adalah klub.

Secara pribadi, kata Djibril, dirinya masih bisa fokus bertanding dan tidak memikirkan uang jika sudah berada di lapangan. Tapi pemain tengah asal Guinea itu juga sangat memaklumi jika ada pemain lain yang tak bersemangat main jika gajinya tak kunjung dibayarkan.

Sementara itu Ketua Umum PSSI Djohar Arifin hari ini memberi tanggapannya soal ancaman mogok dari APPI tersebut. Ia berpendapat, APPI harus mempertimbangkannya matang-matang, karena alih-alih menjadi solusi, opsi tersebut malahan bisa merugikan sendiri.

"Pemain dan klub bisa makin susah, karena kalau mereka mogok, klub tidak bertanding dan kehilangan pemasukan dari penjualan tiket pertandingan," ujar Djohar di kantor PSSI, Jakarta, Kamis (31/5/2012).

Ia mengakui, sejumlah klub IPL dalam kondisi megap-megap keuangannya, antara lain karena masih transisi dari penggunaan dana APBD menjadi mandiri. Situasi sepakbola yang masih sering dicemari kekerasan di lapangan maupun di luar stadion, seperti perkelahian antarpemain, penyerangan pada wasit dan kerusuhan suporter, juga membuat pihak sponsor enggan berinvestasi.

Djohar meminta semua pihak sama-sama berpikir dan mencari solusi dari kondisi yang sulit ini. Dari pihak federasi ia berharap ada bantuan dari sponsor pada klub-klub yang menunggak gaji pemain-pemainnya.

"Kami mengusahakan, paling lambat masalah ini bisa diselesaikan di bulan Juli, saat kompetisi berakhir," tukasnya.

Sebelumnya, PT. Liga Indonesia yang mengelola kompetisi ISL juga mengkritik APPI terkait rencanca mogok mereka.

"Kita sangat berharap bahwa kehadiran APPI tidak untuk menyekat pemain dengan klub-klub. Pemain mengikat kontrak dengan klub, bukan pemain mengikat kontrak dengan APPI. Sehingga APPI harus menjadi jembatan apabila terjadi sengketa terhadap pemain-pemain tersebut," kata CEO PT. Liga, Joko Driyono, di kantornya kemarin.

"Proses dialog untuk mogok pemain sangat prematur dan belum pernah dilakukan di negara kita. Saya merasa inisiatif untuk mogok pemain, lebih kepada sama-sama mencari jalan keluar. Dalam konteks jalan keluar ada yang sifatnya regulasi, kontrak bisnis, dan itu pasti dilindungi. Dan bagimana cara pemenuhannya, semua harus memahami. Sehingga satu sama lain harus mengerti bahwa dalam industri sepakbola ini pemain bukan menjadi bagian yang menerima uang sebagai profesi dan juga.

"Saya memuji APPI sekaligus mengkritik APPI. Memuji bahwa kita berharap ada sebuah jalur yang dibangun untuk menjembatani pemain dengan klub dengan semua konsekuensi yang ada. Mengkritik karena kita sebenarnya harus lebih kencang lebih kritis dan lebih awal dalam konteks pada saat kesulitan itu, karena pemain sebelum menandatangi kontrak, sebenarnya dalam konteks bisnis harus mengukur risiko itu," katanya.

( a2s / roz )

0 comments:

Posting Komentar

Apa Pendapatmu Tentang Berita Sepakbola ini?