Kamis, 14 Juni 2012

Inggris Tak Pernah Menang di Laga Pembuka Euro

Jakarta - Ada sejarah tak manis untuk Inggris menjelang pertandingannya melawan Prancis malam ini. Mereka tak pernah menang dari semua laga pertamanya di putaran final Piala Eropa.

Berikut ini beberapa fakta lain terkait duel kedua kesebelasan di Donbass Arena, Donetsk, Ukraina, di babak Grup D, Senin (11/6/2012) malam WIB:

Head-to-head

- Prancis mengalahkan Inggris di pertandingan pertama mereka di Piala Eropa 2004. Inggris sempat unggul lebih dulu berkat gol Frank Lampard, tapi Prancis berbalik menang berkat dua gol injury time Zinedine Zidane.

- Sebelum pertemuan mereka di Piala Eropa 2004 itu, satu-satunya duel kedua tim tersebut di putaran final Piala Eropa adalah di Swedia 1992. Bertarung di Malmoe, pertandingan berakhir 0-0.

- Prancis tak terkalahkan di lima pertemuan terakhir melawan Inggris. Mereka menang empat kali dan seri sekali. Kekalahan terakhir Prancis dari Inggris terjadi pada 7 Juni 1997 di Le Tournoi, via gol tunggal Alan Shearer.

Prancis

- Pelatih Prancis Laurent Blanc berkesempatan besar menyamai rekor Berti Vogts asal Jerman, satu-satunya orang yang meraih gelar Piala Eropa baik sebagai pemain maupun pelatih (1972 dan 1996).

- Prancis cuma meraih dua angka dari enam pertandingan di dua turnamen besar terakhirnya, yakni di Piala Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010.

- Sejak Prancis dilatih Laurent Blanc, Karim Benzema menjadi pemain paling subur dengan tujuh gol, plus lima assist.

- Oliver Giroud adalah pemain yang menciptakan satu gol dan 3 assist dalam waktu 202 menit.

-Di skuad Piala Eropa 2012, hanya lima pemain yang tampil di Euro 2008.

Inggris

- Inggris adalah tim yang paling sering mengikuti Piala Eropa (sebelum Euro 2012) tapi tidak pernah juara. Mereka tersingkir empat kali di fase grup, terbanyak dibandingkan negara-negara lain.

- Inggris selalu segagal menang di laga pertama mereka di tujuh Piala Eropa mereka: seri tiga kali, kalah empat kali. Di dua partai pertamanya yang terakhir mereka kalah: 2-3 dari Portugal di 2000, dan 1-2 dari Prancis di 2004.

- Pelatih Inggris Roy Hodgson pernah sekali menang melawan Prancis. Kala itu ia membesut timnas Swiss dan berhasil menundukkan Les Bleus di laga persahabatan di Lausanne, Mei 1992, dengan skor 2-1.

- John Terry dan Joleon Lescottt baru berduet dua kali di lini belakang Inggris. Kedua pertandingan yang mereka lakoni bersama berujung kemenangan melawan, dua-duanya atas Andora di kualifikasi Piala Dunia 2010.

( a2s / a2s )


Baca juga artikel & ulasan liputan khusus Piala Eropa di HarianDetik.com

Soal Sejarah dan Rivalitas Jerman vs Belanda

Jakarta - Belanda vs Jerman jadi salah satu rivalitas paling sengit di jagad sepakbola. Sejarah perseteruan kedua negara dimulai sejak Perang Dunia II, berlanjut di 1974 dan akan diteruskan malam nanti.

Untuk kali ke-39 sepanjang sejarah, Belanda dan Jerman akan saling berhadapan. Laga tersebut akan terjadi di Metalist Stadium, Kharkiv, malam nanti dalam lanjutan Piala Eropa 2012.

Pertemuan tersebut diprediksikan berjalan sengit. Bukan saja karena laga tersebut akan menjadi sebuah partai hidup mati buat Belanda -- yang sudah kalah di pertandingan pertama-- tapi juga terkait sejarah panjang perseteruan kedua negara, yang dimulai sejak puluhan tahun silam.

Di atas lapangan persaingan Jerman-Belanda memuncak di tahun 1974, tepatnya di final Piala Dunia yang tahun itu digelar di Jerman (Barat). Dalam laga puncak yang digelar di Olympiastadion, Munich, Jerman merebut gelar juara dunianya yang kedua setelah menang 2-1.

Tapi yang membuat pertemuan Belanda vs Jerman menjadi sangat panas adalah karena juga banyak dipengaruhi sejarah kedua negara di periode Perang Dunia II. Saat Jerman menginvasi Belanda, ribuan tentara dan warga Belanda tewas. Inilah yang kemudian memicu munculnya sentimen Anti-Jerman di negara tersebut. Final Piala Dunia 1974 adalah pertemuan pertama Belanda dan Jerman pasca PD II. Karenanya tensi laga saat itu sangatlah tinggi.

"Saya tidak menyukai Jerman, saya benci mereka. Mereka membunuh keluarga saya, ayah saya, saudara perempuan saya dan dua saudara laki-laki saya," seru Wim Van Hanagem, salah satu bek Belanda di final Piala Dunia 1974 seperti dikutip dari BBC.

Saat itu Belanda merasa dicurangi oleh Jerman. Kegagalan jadi juara dunia meski tengah memiliki generasi emas yang dikenal dengan Total Fottball-nya harus tunduk oleh Jerman yang bermain lebih pragmatis.

"Dia (Johan Cryuff) tak mau menjabat tangan saya setelah pertandingan, tapi tiga tahun kemudian kami bertemu dalam sebuah acara dengan sponsor. Dan saat itu dia mengucapkan selamat pada saya. Dia berkata, 'Saya minta maaf. Kami punya pemain lebih baik, tapi kami kalah," kisah mantan bek Jerman, Berti Vogts.

Hingga bertahun-tahun kemudian, pertemuan Belanda vs Jerman selalu melibatkan tensi tinggi. Dan 14 tahun setelah Piala Dunia 1974, Belanda akhirnya bisa membalas Jerman. Meski cuma di babak semifinal Piala Eropa, Belanda berhasil menang 2-1, dan 'Singa Oranye' akhirnya jadi juara setelah di final menang 2-0 atas Uni Soviet.

Kabarnya, usai menang atas Jerman di babak semifinal, sekitar sembila juta warga Belanda (60% dari total populasinya) turun ke jalan merayakan kemenangan tersebut. "Di tahun 1940 mereka datang! di 1988 kami yang menang," begitu fans Belanda bernyanyi merakan kemenangan yang didapat.

"Sulit untuk tidak memakai emosi di pertandingan itu (menghadapi Jerman). Sudah jelas, sejarah ikut berperan, sejarah sepakbola dan sejarah itu sendiri. Itulah mengapa pertandingannya begitu penuh tensi. Sudah 60 tahun sekarang (sejak PD II) dan begitulah kondisinya. Anda tak harus membesar-besarkannya. Tingkat emosinya tinggi, tapi ini soal memenangi pertandingan," ujar mantan striker timnas Belanda Ruud van Nistelrooy.

Data dan Fakta Belanda vs Jerman
 
( din / a2s )


Baca juga artikel & ulasan liputan khusus Piala Eropa di HarianDetik.com

Rabu, 13 Juni 2012

Situs Resmi FIFA Angkat Cerita Bambang Pamungkas

Jakarta - Bambang Pamungkas sudah menjadi salah satu ikon dalam sejarah sepakbola Indonesia. Situs resmi FIFA hari ini memunculkan artikel tentang penyerang Persija Jakarta itu di situs resminya.

Panggilan akrabnya 'Bepe'. Di akun jejaring sosial Twitter, "pengikut"-nya hampir tiga juta orang. Dalam 83 penampilannya untuk tim nasional Indonesia, ia berhasil mencetak 37 gol. Bepe kecil bercita-cita menjadi guru, bukan pesepakbola seperti sekarang.

Tetapi, nasib adalah kesunyian masing-masing. Lewat sepakbola, ia menjadi mercusuar inspirasi bagi banyak pemuda di negeri yang memiliki 1.128 suku ini. Dia adalah: Bambang Pamungkas.

Berikut adalah petikan wawancaranya dengan FIFA:

"Awalnya tidak pernah terlintas dalam pikiran saya untuk menjadi pemain sepak bola. Mimpi saya adalah menjadi guru."

"Pada ulang tahun saya yang kedelapan ayah memberi saya sepasang sepatu bola, sejak itu saya ingin menjadi pesepakbola."

Kurniawan Dwi Julianto dan Paul Gascoine adalah dua pesepakbola yang menjadi inspirasi bagi Bepe. "Saya bermain sebagai gelandang serang ketika di awal karir dan menurut saya Paul Gascoigne adalah seorang jenius di era itu," ia berpendapat.

Dan untuk Kurniawan DJ, ia berkata, "Hampir semua remaja menganggapnya sebagai idola, termasuk saya. Pada tahun 2000, kami bermain bersama di timnas dan itu mimpi yang menjadi kenyataan."

Karirnya di Liga Indonesia diawali saat dia bergabung dengan Persija Jakarta pada tahun 1999. Musim pertamanya sensasional: ia mencetak 24 gol dalam 30 pertandingan yang membuatnya menjadi topskor liga musim itu. Selain memiliki motivasi tinggi saat itu, Bepe juga bicara perihal teknik.

"Saat itu saya sangat termotivasi untuk membuktikan bahwa saya pantas untuk bersaing dengan semua striker top di Indonesia," katanya. "Di sisi lain, mungkin pemain bertahan saat itu tidak terbiasa dengan gaya bermain saya, jadi mungkin agak sulit untuk bermain melawan saya."

Kemampuan Bepe mencetak gol menarik minat klub asing. Ia lantas menjalani pelatihan bersama dua klub Jerman, Borussia Monchengladbach dan Cologne. Setelah itu klub divisi Belanda ketiga EHD Norad menawarinya kontrak bermain. Bepe setuju. Meski bermain hanya dalam jangka pendek, Bepe mengaku senang dengan pengalaman tersebut.

"Salah satu momen paling penting dalam karir saya adalah ketika saya di Belanda," ujarnya. "Saya belajar banyak tentang bagaimana hidup sebagai pemain sepakbola profesional. Sayangnya, cuaca dingin membuat saya agak sulit untuk beradaptasi. Tapi, karakter saya banyak terbentuk selama di sana."

Ia kembali ke Indonesia dan memenangkan gelar liga dengan Persija Jakarta. Pada tahun 2005, Bepe mendapat tawaran untuk bergabung Selangor FC, salah satu klub papan atas di Liga Malaysia.

Musim pertama, musim luar biasa: Bepe berhasil mencetak 41 gol dalam 43 pertandingan, memenangi treble domestik, tidak pernah megalami cedera, dan tidak mendapat satu pun kartu kuning.

Tahun 2007 ia kembali ke Persija. Tawaran dari klub asing kembali datang kepadanya. Adalah Wellington Phoenix, salah satu klub Selandia Baru yang hendak memakai jasanya pada tahun 2010. Tetapi Bepe menampik pergi.

"Sekali lagi, cuaca dingin di Selandia Baru membuat saya berpikir dua kali, karena akan sulit bagi saya dan keluarga saya tinggal di sana. Mungkin masih akan ada kemungkinan bagi saya untuk bermain di Asia Tenggara."

Debut internasional pemain kelahiran Semarang, 10 Juni 1980 ini dimulai saat usianya masih 18 tahun. Kala itu, lawan yang dihadapinya adalah Lithuania. Ia mengaku, dalam usia semuda itu, tekanan terasa jauh lebih berat.

"Tekanan tersebut sangat berat. Jika saya tak mampu mengontrol diri, bisa jadi saya menjadi besar kepala dan lupa bahwa perjalanan masih sangat panjang."

Untuk urusan gol dan penampilan di tim nasional, Bepe adalah yang terbaik. Tetapi ia mengerti, rekor pribadi tak berarti tanpa trofi. Untuk itu, ia menegaskan bahwa hanya akan pensiun jika telah mendapatkan piala dengan timnas Indonesia.

"Segala rekor saya tak ada artinya jika saya tak meraih trofi," katanya. "Sebuah trofi penting bagi Indonesia dan akan menjadi akhir yang manis sebelum saya pensiun. "

Ketika ditanya apa yang akan dilakukannya sepuluh tahun mendatang, Bepe masih belum memikirkannya, "Mungkin aku akan menjadi pelatih, atau mungkin cukup menghabiskan diri di kamar dengan laptop dan segelas kopi sebagai penulis. Atau menjadi koki! Jamie Oliver adalah koki favorit saya. Gaya memasaknya ekspresif dan inovatif. "

Belum lama ini Bepe berulang tahun ke-32. Dengan usia yang tak lagi muda, Bepe menitip pesan untuk Indonesia yang dicintainya ini:

"Suatu hari bisa jadi kalian semua menggantikan saya, jadi persiapkan diri sebaik mungkin. Jangan pernah berhenti bermimpi."

( a2s / din )

Bukan Anak-anak yang Bertelinga Panjang

Jakarta - Kembali Belanda akan berhadapan dengan Jerman di Piala Eropa. Pertemuan kedua tim selalu saja dibumbui perseteruan. Semuanya dimulai sejak Perang Dunia II di mana NAZI Jerman menyerbu Belgia dan Belanda, yang menyisakan luka mendalam di benak bangsa Belanda.

Dendam rakyat Belanda terhadap Jerman benar-benar menjalar ke segala sendi kehidupan termasuk sepakbola. Kekalahan Belanda di final Piala Dunia 1974 oleh Jerman Barat kian membuat perseteruan kedua tim dalam sejarah benar-benar kian mengakar dalam sepakbola.

Willem van Hanegem, yang harus kehilangan ayah, saudara perempuan dan laki-lakinya saat pendudukan Jerman, sampai menangis penuh ratapan beberapa saat setelah Belanda tumbang 2-1 di final yang sudah dianggap klasik itu. "Jika bertemu mereka, saya seperti membayangkan perang," ujar Van Hanegem.

Johan Cruijf menggambarkan kekalahan Belanda dalam pertandingan tersebut dengan kalimat ringkas yang sampai sekarang sering dijadikan alasan jika sebuah tim yang bermain dominan terpaksa menelan kekalahan: "Keindahan akan selalu dikenang, melebihi kemenangan."

Anak-anak Belanda di timnas dari generasi pasca 1974 mengenang final itu dengan perih. Misalnya, Hans Van Breukelen, kiper utama Belanda saat menggondol juara Piala Eropa 1988 di tanah Jerman Barat. Sebagaimana dikisahkan Romo Sindhunata, bayangan kekalahan menyakitkan pada 1974 diakui Breukelen membuat dia dan rekan-rekannya bermain dengan energi 200 persen saat menghadapi Jerman Barat di semifinal Piala Eropa 1988.

Hal lain yang membuat Van Breukelen berang adalah lelucon di Jerman yang menggambarkan anak-anak Belanda dengan nada hinaan. "Jerman suka membuat lelucon yg menyakitkan tentang Belanda. Salah satunya: mengapa anak-anak Belanda itu panjang-panjang kupingnya? Jawab: karena orang tua Belanda sering menjewer tinggi-tinggi kuping anaknya dan berkata: Lihatlah di seberang kita. Di sana tinggal tetangga kita yang juara dunia," ungkapnya.

Rasa puas bisa membalas dendam itu tergambarkan dari insiden ketika Koeman mengelap pantatnya dengan jersey Olaf Thon, tepat begitu wasit meniup pluit tanda berakhirnya pertandingan yang dimenangi Belanda dengan skor 2-1. Pembalasan 1974 yang sempurna, dengan skor yang sama, kali ini langsung di depan publik Jerman Barat sendiri.

Karena hampir semua penduduk Belanda merayakan kemenangan di tanah Jerman ini, para media membandingkan kemeriahan rakyat Belanda ini dengan kemeriahan pembebasan negeri kincir Angin oleh tentara Sekutu di tahun 1945.

Piala Dunia Italia 1990, pertarungan Belanda melawan Jerman kembali terjadi di babak 16 besar. Pelatih Belanda saat itu, Leo Beenhakker, berkata: "Mengalahkan Jerman adalah hal spesial. Kalah dari Jerman akan membuat ingatan itu bertahan lama dan sukar disembuhkan. Ini adalah emosi rivalitas dari sebuah periode gelap dalam sejarah Eropa."

Persaingan dua bangsa ini juga menular secara sublim ke level klub, terutama ketika bintang dari kedua tim bermain untuk tim berbeda yang juga punya sejarah rivalitas panjang di Italia. Trio Gullit, Rijkard dan Van Basten bergabung dengan AC Milan, sementara Andreas Brehme, Lothar Matthaeus dan Juergen Klinsmann bergabung dengan Inter Milan.

Tiga bintang Belanda bergabung dengan Milan dan tiga bintang Jerman bergabung dengan Inter. Dua lapis rivalitas pun bertemu di lapangan. Maka, ketika Jerman Barat bertemu dengan Belanda di babak kedua Piala Dunia 1990 di Italia, media di Italia pun tak bisa tidak ikut menggambarkan pertemuan dua rival itu sebagai pertemuan dua rival di level klub juga. Istilah-nya: pseudo-derby.

Bahwa pertemuan Belanda vs Jerman Barat di Piala Dunia 1990 itu juga digelar di San Siro, itu kian menegaskan bayang-bayang dua level rivalitas yang bertemu secara sublim dalam satu lapangan dan satu pertandingan.

Di bawah bayang-bayang "peringatan" Leo Beenhakker dan pseudo-derby itu, tidak mengherankan jika laga Belanda vs Jerman Barat di babak 16 besar Piala Dunia 1990 diwarnai banyak insiden "tidak pantas", yang membuat laga itu dikenang sebagai salah satu laga paling kotor dalam sejarah Piala Dunia. Dua kartu merah melayang, masing-masing untuk Rijkaard dan Voeller. Seakan tak cukup, keduanya saling bertukar ludah di lorong kamar ganti.

Setelah itu, tensi persaingan kedua tim di lapangan mulai mendingin. Di luar lapangan, ada saja beberapa pihak yang mencoba memanasi seperti supporter dan media. Penyatuan Jerman dan terbentuknya masyarakat Uni Eropa sepertinya menggerus persaingan dan dendam Belanda atas pendudukan Jerman di masa lalu.

Saat berlangsung Piala Erop 2004 di Portugal, perseteruan itu sudah mulai mengendur dengan cukup signifikan. Skor 1-1 menunjukkan "persahabatan" di dalam lapangan. Tapi, hal yang sama juga berlangsung di kalangan suporter. Wartawan dan kolomnis sepakbola, Simon Kuper, memberi kesaksian: "Kerumunan suporter kedua tim di stadion tidak dipisahkan, keduanya dicampur dalam zona yang sama dan semuanya baik-baik saja."

Tidak ada lagi Rijkard dan Voeller, Hannegem atau Olaf Thon. Skuad Jerman kini diisi oleh banyak para keturunan imigran di daftar pemain utamanya, dari Boateng, Khedira, Gomez sampai Oezil, yang tentu saja tidak tahu menahu soal perseteruan kedua bangsa di masa silam. Skuad Belanda juga beberapa di antaranya pernah dan/atau masih bermain di Bundesliga dan mereka diterima dengan baik.

Orang-orang Jerman menyukai pemain-pemain Belanda, terlebih banyak dari mereka sukses di Bundesliga, kata penulis The Guardian, Raphaeil Honigstein. Pertandingan akan berjalan dengan lebih bersahabat, lanjut Hinigstein, "tapi tidak berarti pertandingan akan kehilangan intensitasnya."

Ya, siapa yang bisa menjamin laga ini tidak akan berlangsung panas?

Sejarah dan memori kolektif, biar bagaimanapun, mengeram secara sublim sampai alam bawah sadar. Mungkin hanya butuh sebuah tekel agak brutal untuk memompa kembali rivalitas panjang ini. Apalagi Belanda butuh kemenangan setelah kalah di partai pembukaan dari Denmark. Jika kalah lagi, Belanda hampir pasti tersingkir secara dini dari Euro 20120.

Tersingkir di babak grup, apalagi itu disebabkan oleh Jerman, pastilah aib yang tidak akan mudah dilupakan. Sneijder dkk., tentu ingin membuktikan mereka bukanlah "anak-anak berteling panjang".

==
* Penulis adalah analis di Pandit Football Indonesia. @hevifauzan.

( a2s / din )


Baca juga artikel & ulasan liputan khusus Piala Eropa di HarianDetik.com

Ceko Sementara Ungguli Yunani 2-0

Wroclaw - Republik Ceko meraih hasil maksimal di laga keduanya di Piala Eropa 2012. Berkat sepasang gol cepat, Republik Ceko menang 2-1 atas Yunani.

Republik Ceko memulai pertandingan di Municipal Stadium, Rabu (13/6/2012) dinihari WIB, dengan sangat baik dan langsung memimpin 2-0 di menit-menit awal.

Gol pertama di dalam laga dibuat oleh Petr Jiracek ketiga pertandingan belum genap memasuki menit ketiga. Beberapa menit kemudian Vaclav Pilar menggandakan keunggulan Republik Ceko.

Yunani baru bisa memberikan jawaban di pertengahan babak kedua. Sebuah kesalahan dari lini belakang Republik Ceko sukses dimanfaatkan pemain pengganti Theofanis Gekas.

Dengan hasil tersebut maka Republik Ceko berhasil bangkit usai mengalami kekalahan 1-4 dalam laga pembukanya melawan Rusia. Kemenangan tersebut membuat Republik Ceko kini mengoleksi 3 poin hasil dari dua laga di Grup A.

Yunani sementara itu belum bisa meraih kemenangan pertama di Euro 2012, mengingat di laga sebelum ini hanya bisa bermain imbang 1-1 lawan Polandia.

Jalannya Pertandingan

Republik Ceko berhasil memimpin saat pertandingan baru berjalan 2,5 menit. Umpan terobosan dari Hubschman dituntaskan Jiracek meski bola sempat bisa mengenai kiper Chalkias yang bergegas meninggalkan gawangnya.

Beberapa menit berselang, tepatnya menit keenam, Republik Ceko melebarkan keunggulan. Rosicky mengoper ke Selassie di sayap kanan, yang lantas melepaskan umpan ke depan gawang. Di bawah kawalan dua bek Yunani, Villar tetap bisa mengirim bola ke dalam gawang.

Setelah kebobolan dua gol cepat, kiper Yunani Chalkias tampaknya juga mengalami cedera. Ia pun digantikan oleh Sifakis ketika pertandingan memasuki menit 22.

Sifakis mendapat ujian pertamanya pada menit 29 menyusul sebuah tendangan keras dari Rosicky. Bola masih bisa ditepis Sifakis untuk menghasilkan tendangan penjuru.

Yunani sempat menggetarkan gawang Republik Ceko empat menit sebelum turun minum, tetapi hakim garis sudah mengangkat bendera tanda offside. Fotakis dinilai sudah terjebak offside ketika menanduk umpan silang Torosidis.

Republik Ceko memulai babak kedua dengan baik dan langsung mengancam lewat umpan silang Selassie ke kotak penalti. Tetapi Baros yang dituju gagal menuntaskan peluang tersebut.

Kesalahpahaman Cech dengan Sivok pada menit 53 berujung fatal. Bola umpan Samaras yang mestinya bisa diamankan justru bergulir liar untuk disambar Gekas. Yunani mengikis ketinggalan jadi 1-2.

Susunan Pemain

Yunani: Chalkias (Sifakis 22'), Torosidis, Kyriakos Papadopoulos, Katsouranis, Holebas, Fotakis (Gekas 45'), Maniatis, Karagounis, Salpingidis, Samaras, Fortounis (Mitroglou 72').

Republik Ceko: Cech, Gebre Selassie, Sivok, Kadlec, Limbersky, Hubschman, Plasil, Jiracek, Rosicky (Kolar 45' Rajtoral 90'), Pilar, Baros (Pekhart 64').

( krs / roz )


Baca juga artikel & ulasan liputan khusus Piala Eropa di HarianDetik.com

Gekas Pangkas Ketinggalan Yunani Jadi 1-2

Wroclaw - Republik Ceko meraih hasil maksimal di laga keduanya di Piala Eropa 2012. Berkat sepasang gol cepat, Republik Ceko menang 2-1 atas Yunani.

Republik Ceko memulai pertandingan di Municipal Stadium, Rabu (13/6/2012) dinihari WIB, dengan sangat baik dan langsung memimpin 2-0 di menit-menit awal.

Gol pertama di dalam laga dibuat oleh Petr Jiracek ketiga pertandingan belum genap memasuki menit ketiga. Beberapa menit kemudian Vaclav Pilar menggandakan keunggulan Republik Ceko.

Yunani baru bisa memberikan jawaban di pertengahan babak kedua. Sebuah kesalahan dari lini belakang Republik Ceko sukses dimanfaatkan pemain pengganti Theofanis Gekas.

Dengan hasil tersebut maka Republik Ceko berhasil bangkit usai mengalami kekalahan 1-4 dalam laga pembukanya melawan Rusia. Kemenangan tersebut membuat Republik Ceko kini mengoleksi 3 poin hasil dari dua laga di Grup A.

Yunani sementara itu belum bisa meraih kemenangan pertama di Euro 2012, mengingat di laga sebelum ini hanya bisa bermain imbang 1-1 lawan Polandia.

Jalannya Pertandingan

Republik Ceko berhasil memimpin saat pertandingan baru berjalan 2,5 menit. Umpan terobosan dari Hubschman dituntaskan Jiracek meski bola sempat bisa mengenai kiper Chalkias yang bergegas meninggalkan gawangnya.

Beberapa menit berselang, tepatnya menit keenam, Republik Ceko melebarkan keunggulan. Rosicky mengoper ke Selassie di sayap kanan, yang lantas melepaskan umpan ke depan gawang. Di bawah kawalan dua bek Yunani, Villar tetap bisa mengirim bola ke dalam gawang.

Setelah kebobolan dua gol cepat, kiper Yunani Chalkias tampaknya juga mengalami cedera. Ia pun digantikan oleh Sifakis ketika pertandingan memasuki menit 22.

Sifakis mendapat ujian pertamanya pada menit 29 menyusul sebuah tendangan keras dari Rosicky. Bola masih bisa ditepis Sifakis untuk menghasilkan tendangan penjuru.

Yunani sempat menggetarkan gawang Republik Ceko empat menit sebelum turun minum, tetapi hakim garis sudah mengangkat bendera tanda offside. Fotakis dinilai sudah terjebak offside ketika menanduk umpan silang Torosidis.

Republik Ceko memulai babak kedua dengan baik dan langsung mengancam lewat umpan silang Selassie ke kotak penalti. Tetapi Baros yang dituju gagal menuntaskan peluang tersebut.

Kesalahpahaman Cech dengan Sivok pada menit 53 berujung fatal. Bola umpan Samaras yang mestinya bisa diamankan justru bergulir liar untuk disambar Gekas. Yunani mengikis ketinggalan jadi 1-2.

Susunan Pemain

Yunani: Chalkias (Sifakis 22'), Torosidis, Kyriakos Papadopoulos, Katsouranis, Holebas, Fotakis (Gekas 45'), Maniatis, Karagounis, Salpingidis, Samaras, Fortounis (Mitroglou 72').

Republik Ceko: Cech, Gebre Selassie, Sivok, Kadlec, Limbersky, Hubschman, Plasil, Jiracek, Rosicky (Kolar 45' Rajtoral 90'), Pilar, Baros (Pekhart 64').

( krs / roz )


Baca juga artikel & ulasan liputan khusus Piala Eropa di HarianDetik.com