Dendam rakyat Belanda terhadap Jerman benar-benar menjalar ke segala sendi kehidupan termasuk sepakbola. Kekalahan Belanda di final Piala Dunia 1974 oleh Jerman Barat kian membuat perseteruan kedua tim dalam sejarah benar-benar kian mengakar dalam sepakbola.
Willem van Hanegem, yang harus kehilangan ayah, saudara perempuan dan laki-lakinya saat pendudukan Jerman, sampai menangis penuh ratapan beberapa saat setelah Belanda tumbang 2-1 di final yang sudah dianggap klasik itu. "Jika bertemu mereka, saya seperti membayangkan perang," ujar Van Hanegem.
Johan Cruijf menggambarkan kekalahan Belanda dalam pertandingan tersebut dengan kalimat ringkas yang sampai sekarang sering dijadikan alasan jika sebuah tim yang bermain dominan terpaksa menelan kekalahan: "Keindahan akan selalu dikenang, melebihi kemenangan."
Anak-anak Belanda di timnas dari generasi pasca 1974 mengenang final itu dengan perih. Misalnya, Hans Van Breukelen, kiper utama Belanda saat menggondol juara Piala Eropa 1988 di tanah Jerman Barat. Sebagaimana dikisahkan Romo Sindhunata, bayangan kekalahan menyakitkan pada 1974 diakui Breukelen membuat dia dan rekan-rekannya bermain dengan energi 200 persen saat menghadapi Jerman Barat di semifinal Piala Eropa 1988.
Hal lain yang membuat Van Breukelen berang adalah lelucon di Jerman yang menggambarkan anak-anak Belanda dengan nada hinaan. "Jerman suka membuat lelucon yg menyakitkan tentang Belanda. Salah satunya: mengapa anak-anak Belanda itu panjang-panjang kupingnya? Jawab: karena orang tua Belanda sering menjewer tinggi-tinggi kuping anaknya dan berkata: Lihatlah di seberang kita. Di sana tinggal tetangga kita yang juara dunia," ungkapnya.
Rasa puas bisa membalas dendam itu tergambarkan dari insiden ketika Koeman mengelap pantatnya dengan jersey Olaf Thon, tepat begitu wasit meniup pluit tanda berakhirnya pertandingan yang dimenangi Belanda dengan skor 2-1. Pembalasan 1974 yang sempurna, dengan skor yang sama, kali ini langsung di depan publik Jerman Barat sendiri.
Karena hampir semua penduduk Belanda merayakan kemenangan di tanah Jerman ini, para media membandingkan kemeriahan rakyat Belanda ini dengan kemeriahan pembebasan negeri kincir Angin oleh tentara Sekutu di tahun 1945.
Piala Dunia Italia 1990, pertarungan Belanda melawan Jerman kembali terjadi di babak 16 besar. Pelatih Belanda saat itu, Leo Beenhakker, berkata: "Mengalahkan Jerman adalah hal spesial. Kalah dari Jerman akan membuat ingatan itu bertahan lama dan sukar disembuhkan. Ini adalah emosi rivalitas dari sebuah periode gelap dalam sejarah Eropa."
Persaingan dua bangsa ini juga menular secara sublim ke level klub, terutama ketika bintang dari kedua tim bermain untuk tim berbeda yang juga punya sejarah rivalitas panjang di Italia. Trio Gullit, Rijkard dan Van Basten bergabung dengan AC Milan, sementara Andreas Brehme, Lothar Matthaeus dan Juergen Klinsmann bergabung dengan Inter Milan.
Tiga bintang Belanda bergabung dengan Milan dan tiga bintang Jerman bergabung dengan Inter. Dua lapis rivalitas pun bertemu di lapangan. Maka, ketika Jerman Barat bertemu dengan Belanda di babak kedua Piala Dunia 1990 di Italia, media di Italia pun tak bisa tidak ikut menggambarkan pertemuan dua rival itu sebagai pertemuan dua rival di level klub juga. Istilah-nya: pseudo-derby.
Bahwa pertemuan Belanda vs Jerman Barat di Piala Dunia 1990 itu juga digelar di San Siro, itu kian menegaskan bayang-bayang dua level rivalitas yang bertemu secara sublim dalam satu lapangan dan satu pertandingan.
Di bawah bayang-bayang "peringatan" Leo Beenhakker dan pseudo-derby itu, tidak mengherankan jika laga Belanda vs Jerman Barat di babak 16 besar Piala Dunia 1990 diwarnai banyak insiden "tidak pantas", yang membuat laga itu dikenang sebagai salah satu laga paling kotor dalam sejarah Piala Dunia. Dua kartu merah melayang, masing-masing untuk Rijkaard dan Voeller. Seakan tak cukup, keduanya saling bertukar ludah di lorong kamar ganti.
Setelah itu, tensi persaingan kedua tim di lapangan mulai mendingin. Di luar lapangan, ada saja beberapa pihak yang mencoba memanasi seperti supporter dan media. Penyatuan Jerman dan terbentuknya masyarakat Uni Eropa sepertinya menggerus persaingan dan dendam Belanda atas pendudukan Jerman di masa lalu.
Saat berlangsung Piala Erop 2004 di Portugal, perseteruan itu sudah mulai mengendur dengan cukup signifikan. Skor 1-1 menunjukkan "persahabatan" di dalam lapangan. Tapi, hal yang sama juga berlangsung di kalangan suporter. Wartawan dan kolomnis sepakbola, Simon Kuper, memberi kesaksian: "Kerumunan suporter kedua tim di stadion tidak dipisahkan, keduanya dicampur dalam zona yang sama dan semuanya baik-baik saja."
Tidak ada lagi Rijkard dan Voeller, Hannegem atau Olaf Thon. Skuad Jerman kini diisi oleh banyak para keturunan imigran di daftar pemain utamanya, dari Boateng, Khedira, Gomez sampai Oezil, yang tentu saja tidak tahu menahu soal perseteruan kedua bangsa di masa silam. Skuad Belanda juga beberapa di antaranya pernah dan/atau masih bermain di Bundesliga dan mereka diterima dengan baik.
Orang-orang Jerman menyukai pemain-pemain Belanda, terlebih banyak dari mereka sukses di Bundesliga, kata penulis The Guardian, Raphaeil Honigstein. Pertandingan akan berjalan dengan lebih bersahabat, lanjut Hinigstein, "tapi tidak berarti pertandingan akan kehilangan intensitasnya."
Ya, siapa yang bisa menjamin laga ini tidak akan berlangsung panas?
Sejarah dan memori kolektif, biar bagaimanapun, mengeram secara sublim sampai alam bawah sadar. Mungkin hanya butuh sebuah tekel agak brutal untuk memompa kembali rivalitas panjang ini. Apalagi Belanda butuh kemenangan setelah kalah di partai pembukaan dari Denmark. Jika kalah lagi, Belanda hampir pasti tersingkir secara dini dari Euro 20120.
Tersingkir di babak grup, apalagi itu disebabkan oleh Jerman, pastilah aib yang tidak akan mudah dilupakan. Sneijder dkk., tentu ingin membuktikan mereka bukanlah "anak-anak berteling panjang".
==
* Penulis adalah analis di Pandit Football Indonesia. @hevifauzan.
( a2s / din )
Baca juga artikel & ulasan liputan khusus Piala Eropa di HarianDetik.com
0 comments:
Posting Komentar
Apa Pendapatmu Tentang Berita Sepakbola ini?