Wina, 29 Juni 2008, di Ernst Happel Stadium, sebuah umpan terobosan dilepaskan Xavi sedikit di depan garis tengah lapangan, berhasil dituntaskan dengan baik oleh Torres. Posisi El Nino ketika itu tengah dijepit oleh Christoph Metzelder dan Philipp Lahm. Ia kemudian berlari ke sisi kanan Lahm, menyambut umpan terobosan tersebut, dan menceploskannya ke gawang yang dikawal oleh Jens Lehmann.
Bagi Torres sendiri, gol tersebut seperti sudah diramalkan bakal terjadi. Sejak menit pertama pertandingan, ia tak henti-hentinya berlari mengejar bola dan sempat mendapatkan beberapa peluang; di antaranya adalah sebuah sundulan yang membentur tiang sebelah kanan Lehmann. Tak dinyana, gol di menit ke-33 itu jugalah yang membuat Spanyol menduduki takhta tertinggi Eropa.
Banyak hal terjadi dan banyak hal sudah dilalui setelah final tersebut. Publik mungkin lupa bahwa tak banyak yang menjagokan Spanyol menjadi juara ketika itu, kecuali seorang pelatih bermulut pedas bernama Jose Mourinho. Publik juga mungkin sudah melupakan (dan juga memaklumi) keputusan Luis Aragones untuk tidak membawa seorang Raul Gonzalez. Toh, La Furia Roja tampil kolektif dan kompak pada turnamen tersebut.
"Manajer seperti ayah bagi kami. Dia senang memainkan sepakbola yang indah dan itulah yang terpenting bagi tim. Mungkin dialah bagian terpenting di balik kesuksesan ini. Ia memiliki kepercayaan yang besar kepada kami," ucap Torres seusai final.
Empat tahun setelah final itu, David Silva--yang menjadi andalan Aragones sepanjang turnamen--sudah menemukan kebintangan sendiri di Manchester City, meski tak lagi mendapat tempat utama di tim nasional. Dani Guiza, yang tampil tajam bersama Mallorca sepanjang musim 2007/2008, sudah sempat berpetualang ke Turki sebelum kini bermain di Spanyol lagi. Jangan lupakan juga Marcos Senna. Kendati sudah tak lagi dipanggil tim nasional, perannya sebagai gelandang bertahan ketika itu juga vital. Terakhir, siapa sangka empat tahun setelah final itu, Torres sendiri sudah tidak lagi berbaju Liverpool?
Torres melalui dua setengah musim berikutnya berseragam The Reds dengan gambaran masa depan akan selamanya menjadi idola di Anfield. Tapi, kenyataan berkata lain. Torres pindah dari merah menjadi biru setelah uang sebesar 50 juta poundsterling ditransfer ke rekening Liverpool. Setelahnya, ia mengalami masa-masa sulit. Torres yang dulunya begitu tajam tidak identik lagi dengan kata "gol". Ia pun kerap menjadi bahan olok-olok.
Sedemikian tak signifikannya Torres, sampai-sampai ketika ia mencetak gol menjadi sesuatu hal yang luar biasa. Padahal tak semuanya melulu salahnya. Pola main Chelsea yang mengharuskannya menjemput bola sangat berbeda dengan Liverpool, di mana ia sangat dimanjakan oleh umpan-umpan terukur dari Steven Gerrard. Torres akhirnya menemukan momen penebusan ketika dirinya membobol gawang Victor Valdes di semifinal Liga Champions musim kemarin. Gol tersebut memastikan langkah The Blues ke final.
Selain itu tak banyak lagi yang bisa diingat dari Torres dalam dua tahun terakhir. Ia tak mencetak gol sama sekali pada Piala Dunia 2010, yang mana terjadi seiring menurunnya produktivitasnya di Premier League dan kian sering dirinya absen akibat cedera. Segala negatifnya di lapangan, menutup positifnya. Seperti tak ada yang mengingat bahwa Torres-lah pahlawan Spanyol di final empat tahun silam, final yang kemudian menahbiskan negeri matador itu menjadi kekuatan baru di jagat sepakbola.
Tapi, tidak demikian bagi Spanyol. Bagi mereka gol semata wayang ke gawang Der Panzer tersebut adalah sebuah awal dari sebuah kejayaan. Setidaknya demikianlah yang diungkapkan Pepe Reina dalam pesta perayaan di Spanyol usai ia dan rekan-rekan senegaranya mengklaim trofi Piala Dunia di Johannesburg.
Reina, yang memang badut-nya timnas Spanyol, memperkenalkan ke hadapan publik satu per satu anggota skuad dengan gayanya yang kocak. Ia melabeli Pedro Rodriguez sebagai pria yang selalu berlari, entah di lapangan, atau pun di luar lapangan--"Dia bahkan berlari ketika ingin naik ke tempat tidur," ucap Reina dengan nada lantang. Dia juga melabeli Jesus Navas--yang sprint-nya mengawali gol Andres Iniesta ke gawang Belanda--sebagai orang gila yang baru saja kabur dari rumah sakit, sehingga tak ada satu pun pemain yang bisa mengejar larinya.
Selain itu, ia juga menyebut Sergio Busquets sebagai "gurita" lantaran memiliki "tentakel" yang memungkinkannya mencuri bola dari lawan, serta memanggil Iker Casillas dengan julukan "Orang Suci dari Mostoles". Tapi apa yang dikatakannya soal Torres? "Semua berawal dua tahun dan 13 hari yang lalu. Ia mencetak gol ke gawang Jerman di Piala Eropa 2008. Dia membuat kami berani bermimpi. Dia membuat kami percaya. Dan itulah alasan kami bisa menjadi juara.. Fernando Torres!!"
Bukan kebetulan pula jika akhirnya Torres digadang-gadang menjadi andalan lini depan Spanyol pada perhelatan tahun ini. Cederanya David Villa membuat ia menjadi opsi terdepan untuk menjadi bomber Spanyol. Di belakangnya, ada Fernando Llorente--yang juga anggota skuad Piala Dunia 2010--dan Alvaro Negredo. Ini adalah kesempatan baginya untuk membuktikan diri setelah satu setengah musim yang ajaib bersama Chelsea. Ajaib lantaran dirinya banyak mendapatkan sorotan, namun sukses mendapatkan dua buah trofi juara.
Entah keajaiban apa lagi yang akan diciptakan Torres untuk Spanyol. Atau mungkin saja justru malah nihil keajaiban sama sekali. Namun, apa pun itu, empat tahun setelah gol ke gawang Jerman itu Torres--seperti yang diklaim Reina--telah memberikan Spanyol sebuah harapan besar.
==
*) Penulis ada wartawan detikSport. @rossifinza
( roz / din )
Baca juga artikel & ulasan liputan khusus Piala Eropa di HarianDetik.com
0 comments:
Posting Komentar
Apa Pendapatmu Tentang Berita Sepakbola ini?