Minggu, 10 Juni 2012

Jerman-Portugal: Menyerang dari Lebar Lapangan

Jakarta - Prediksi laga Jerman vs Portugal akan berjalan menarik memang terbukti. Perkiraan Jerman akan menang pun terbukti. Hanya saja Jerman memenangi laga ini tidak dengan cara yang penuh kreativitas sebagaimana sering dipuji media dalam dua tahun terakhir, melainkan lewat proses baku yang diakhiri dengan finishing khas seorang "classic number 9".

Kedua tim menggunakan tiga gelandang di lapangan tengah (Khedira-Scweinsteiger-Oezil vs Veloso-Moutinho-Meireles). Jerman bermain dalam formasi dasar 4-2-3-1 yang bertransformasi menjadi 4-1-4-1, dengan Schweinsteiger menjaga kedalaman. Portugal turun dengan formasi dasar 4-3-3 yang bertransformasi menjadi 4-1-2-3, dengan Veloso yang konsisten selalu berada di area pertahanan melindungi defensive-line timnya.

Oezil vs Veloso

Bermain di belakang Mario Gomez, Mesut Oezil diberi keleluasaan bergerak ke kanan untuk membantu Thomas Mueller atau ke kiri guna bertukar posisi dengan Lucas Podolski. Sepanjang babak I, dua kali Oezil menusuk pertahanan Portugal dengan bola, dan lebih dari 3 kali ia mengirim crossing dari sisi kiri. Jika menerima bola di lapangan tengah, Oezil tidak langsung mendistribusikan bola pada Gomez, tapi membaginya ke kanan (Mueller) atau kiri (Podolski). Dua shot on target Jerman dalam 10 menit pertama dimulai dari crossing sisi kanan Jerman (Jerome Boateng dan Mueller) yang menerima distribusi bola Oezil.

Peran sentral Oezil dalam serangan Jerman ini diantisipasi pelatih Portugal, Paulo Bento, dengan menugaskan Veloso untuk mengawasi pergerakan bintang Real Madrid itu. Dua tackle sukses yang dibuat Veloso sepanjang pertandingan juga lahir dari upaya Veloso menghentikan Oezil.

Sampai 25 menit pertama, laga Jerman vs Portugal ini bisa diringkas menjadi pertarungan Oezil vs Veloso. Penjagaan Veloso di kedalaman lapangan ini pelan tapi pasti membuat Oezil memilih untuk lebih aktif lagi bergerak ke sisi lapangan. Jika pun Oezil berada di tengah permainan, mayoritas bola kembali ia distribusikan ke lebar lapangan. Lihat chalkboard passing Oezil di bawah ini untuk melihat minimnya pasokan bola ke Gomez yang menunggu di depan. (sumber: Four-Four-Two)

Ofensifnya Khedira

Ketatnya Veloso menjaga pergerakan Oezil membuat Jerman lebih aktif memaksimalkan personil mereka di lini tengah untuk ikut menekan. Setelah 20-25 menit awal babak I, terutama Sami Khedira jauh lebih berani naik ke pertahanan Portugal. Ofensifnya Khedira ini terlihat dari beberapa kali dia memasuki final-third (sepertiga lapangan terakhir) sampai ke kotak penalti Portugal. Khedira bahkan sempat mengirim umpan diagonal yang gagal dikonversi Podolski menjadi shot ot target.

Perubahan kecil ini memaksa Portugal bergerak lebih ke dalam turunnya Meireles ke daerah sendiri. Jika sebelumnya Meireles lebih ofensif sebagai penghubung transisi bertahan ke menyerang, sejak pertengahan babak pertama ini Portugal hanya meninggalkan Cristiano Ronaldo dan Nani di lebar lapangan mengapit Helder Postiga.

Akibat lain dari perubahan ini adalah menumpuknya jumlah pemain di depan defensive line Portugal. Situasi ini membuat dominasi penguasaan bola Jerman makin tinggi, tetapi sekaligus juga membuat Portugal makin sukar ditembus langsung dari tengah.

Jika melihat chalkboard passing Jerman di babak I, terlihat minimnya passing Jerman di jantung pertahanan Portugal atau di final-third. Begitu memasuki daerah pertahanan Portugal, bola nyaris pasti digulirkan ke lebar lapangan. (sumber: Four-Four-Two)

Babak Kedua

Portugal lebih berani mengambil inisiatif. Kendati ball posession masih dikuasai oleh Jerman, tetapi inisiatif Portugal mulai terlihat jelas. Perubahan kecil dilakukan Bento pada pertukarang peran Raul Meireles dan Joao Moutinho. Dibabak kedua ini Moutinho diberi keleluasaan untuk memaksimalkan energinya dan berperan ganda, baik sebagai breaker maupun penghubung antara unit bertahan dan menyerang. Di menit 61, peran ganda itu diperlihatkan dengan amat baik oleh gelandang FC Porto itu.

Tepat di garis tengah, Moutinho berhasil memotong umpan Khedira dan mengubah arah umpan itu ke kaki Veloso. Veloso langsung menyodorkan bola kembali pada Moutinho yang lalu mendribel sekitar 15-20 meter. Dengan brilian, Moutinho mengirim through-pass (umpan terobosan) pada Ronaldo yang bergerak dari arah kiri. Untung saja Boateng dengan tepat berhasil memblok upaya Ronaldo melakukan eksekusi dari dalam kotak penalti.

Peran Moutinho seperti inilah yang gagal dimainkan oleh Meireles sepanjang babak pertama. Perubahan kecil Bento ini terbukti memberi efek signifikan dalam meningkatkan inisiatif penyerangan Portugal.

Jerman manfaatkan lebar lapangan

Jerman memang mendominasi penguasaan bola sepanjang pertandingan, tapi gagal menunjukkan kreativitas yang banyak dibicarakan media dalam beberapa tahun terakhir. Trisula lini tengah Portugal (Veloso-Moutinho-Meireles) memang bisa dikalahkan dalam perebutan dominasi di lini tengah, tapi tak bisa ditembus jika mereka sudah berada di daerah pertahanan sendiri.

Ini membuat Mario Gomez praktis terisolasi sendirian. Mueller, yang biasa ikut masuk ke kotak penalti guna menopang Gomez, di laga ini tidak mampu melakukan itu. Ia tertahan sedemikian rupa di lebar lapangan, sebagaimana Podolski juga tidak punya banyak kesempatan untuk masuk ke kotak penalti.

Dalam situasi ini, crossing-crossing menjadi pilihan akhir bagi Jerman. Jumlah 23 crossing yang dibuat Jerman sepanjang laga ini menggambarkan dominasi permainan dari lebar lapangan yang dikembangkan Jerman. Gol yang menentukan hasil akhir juga datang dari umpan silang dari lebar lapangan. Umpan silang dari Khedira diselesaikan dengan dingin oleh Gomez yang sepanjang pertandingan praktis memang selalu menunggu pasokan bola dari lebar lapangan.

Tiga winger Portugal, poin kredit untuk Hummel

Sejak gol Gomez, inisiatif pertandingan sepenuhnya beralih ke Portugal. Paulo Bento memasukkan Nelson Oliveira menggantikan Postiga dan memasukan Silvestre Verela menggantikan Meireles yang tidak berkembang di sepanjang laga. Masuknya Verela membuat Portugal memiliki tiga pemain sayap di lapangan. Ronaldo lebih banyak bermain ke dalam dan Nani secara konstan bergantian posisi di sisi kanan dengan Verela.

Peluang bagi Portugal datang silih berganti dan Jerman sepenuhnya bermain ultra-defensif. Crossing dan kombinasi umpan satu dua dari sisi kanan Portugal yang dilakukan Nani dan/atau Verela terus menerus meneror pertahanan Jerman. Tembakan dari luar kotak penalti Ronaldo, crossing Nani yang menerpa mistar dan duel-duel udara di kotak penalti Jerman mewarnai 10 menit terakhir pertandingan.

Kredit layak diberikan pada Mats Hummel yang nyaris selalu memenangi duel, terutama saat Portugal mendominasi permainan di 15 menit terakhir. Total Hummel membuat 6 intersep, 10 clearance dan membuat sekali blockshot.

Kesimpulan

Tidak banyak yang memperkirakan laga ini akan banyak diwarnai serangan yang dibangun dari lebar lapangan. Tapi begitulah kenyataannya. Sama-sama bermain dengan satu striker dan menumpuk tiga gelandang di lini tengah membuat kedua tim tidak banyak memiliki kesempatan menusuk jantung pertahanan lawan melalui serangan rapi dari bawah ke tengah sampai ke depan.

Perbandingan jumlah through-balls dan crossing yang dibuat kedua tim menunjukkan keadaan sebenarnya di lapangan. Jerman membuat 23 crossing dan hanya membuat 2 through-pass, sementara Portugal membuat 28 crossing dan hanya membuat 3 through-pass.

Gol tunggal Gomez yang juga berasal dari crossing menjadi penegasan dominasi permainan dari lebar lapangan pada salah satu laga terbaik di matchday pertama EURO 2012 ini.

==

* Penulis adalah penikmat sepakbola di Pandit Football Indonesia. Akun twitter: @randyprasatya

( a2s / a2s )


Baca juga artikel & ulasan liputan khusus Piala Eropa di HarianDetik.com

0 comments:

Posting Komentar

Apa Pendapatmu Tentang Berita Sepakbola ini?