Belanda turun dengan formasi kesukaan Bert van Marwijk yaitu 4-2-3-1, dengan Nigel de Jong dan Mark van Bommel berada di belakang Wesley Sneijder guna melindungi barisan pertahanan. Formasi sama juga dipakai Denmark dengan menempatkan William Kvist dan Niki Zimling di belakang Christian Eriksen. Sebagai striker, Belanda memasang Robin van Persie dan Denmark menurunkan Niklas Bendtner.
Buat Belanda, formasi dan komposisi ini tidak mengalami perubahan banyak sejak Piala Dunia 2010 lalu. Bedanya ada di komposisi pemain. Di laga ini, Belanda memasang Ron Vlaar menggantikan Joris Mathijsen dan mempercayakan posisi bek kiri pada Jetro Willems, yang di laga ini mencatat rekor sebagai pemain termuda di putaran final Piala Eropa sepanjang sejarah.
Zimling dan Kvist sang peredam
Sebagai pengusung sepakbola menyerang, Belanda lebih bermain menyerang dibanding Denmark yang bermain menunggu untuk bisa mematahkan serangan sekaligus melancarkan serangan cepat. Ini tercermin dari penguasaan bola di babak pertama yang didominasi Belanda sebesar 58% berbanding 42%.
Namun lini tengah Denmark ternyata lebih siap menghalau setiap serangan Belanda, terutama melalui duo Zimling dan Kvist. Kvist berhasil melindungi lini belakang Denmark dengan secara konstan berada di depan garis pertahanan, sedangkan Zimling diberi sedikit ruang untuk naik dan berhadapan dengan pergerakan Van Bommel dan De Jong, sebelum mencapai Sneijder. Ini membuat Belanda, dalam beberapa kesempatan, seperti terbagi dalam dua unit antara unit bertahan dan menyerang.
Dominasi Zimling dan Kvist di lini tengah ini membuat pertahanan Denmark di babak pertama bisa jauh lebih rileks dalam menghadapi serangan Belanda. Chalkboard upaya tekel Denmark di babak I menunjukkan upaya bertahan sudah dimulai sejak dini. Di opposition half (area lawan), Denmark melakukan 3 kali tekel, di area tengah lapangan juga 3 kali, tapi hanya 3 kali pula dilakukannya di sepertiga daerah sendiri. Dari sembilan tekel tersebut, nilai Denmark sempurna karena semuanya tackle won. (Sumber: Four-Four-Two)
Dominasi Sneijder
Seperti biasa, serangan Belanda sangat bergantung kepada kemampuan Sneijder sebagai pengatur serangan. Di partai ini ia menjadi pemain yang paling sering menyentuh bola di tim Belanda: 97 touch, 71 passing.
Sneijder sebenarnya bermain sesuai standar yang dia miliki. Dia bisa bermain satu-dua sentuhan di tengah lapangan atau lebar lapangan, tapi dia juga bisa melesat dan dengan cepat berada di belakang Van Persie. Dalam satu atau dua momen, dia juga mampu mengeluarkan sihirnya dengan membuat umpan brilian. Umpan Sneijder di babak kedua dengan menggunakan kaki luar, yang membelah pertahanan Denmark, adalah salah satu momen terbaik di laga ini. Sayang, Klaas-Jan Huntelaar gagal mengonversinya menjadi gol.
Selain membuat tiga percobaan mencetak gol, dominasi Sneijder dalam setiap bangunan serangan Belanda terlihat dari statistik passing Sneijder. Dari 32 percobaan mencetak gol, 10 di antaranya berasal dari umpan Sneijder. Artinya, 31% serangan Belanda yang berhasil diakhiri dengan shot melibatkan peran Sneijder.
Robben Factor
Sementara itu Arjen Robben secara konsisten mengganggu jantung pertahanan Denmark dengan kebebasan bergerak yang diberikan Van Maarwijk kepadanya. Pemain Bayern Munich ini bermain secara free-role, dan lebih berperan sebagai inverted winger di daerah kanan. Roben kerap kali merangsek ke tengah dan mengirim tembakan ke arah gawang. Total ia melepas 6 tembakan percobaan ke gawang. Cuma satu yang mengarah ke gawang dan satu lagi membentur tiang gawang.
Sejak awal pertandingan, tampaknya semua penyerangan Belanda harus melewati Arjen Robben. Bahkan ada momen di babak II saat Sneijder harus mengubah arah serangan karena tidak adanya Robben di sana.
Sayangnya, selain gagal mengonversi semua peluang dari kakinya, Robben juga bisa jadi penyebab terjadinya gol yang terjadi di gawang Maarten Stekelenburg. Gol ke gawang Belanda terjadi karena Simon Poulsen berhasil mengisi daerah yang dtinggal Robben. Ia berhasil menusuk pertahanan kanan sebelum crossing-nya diblok Van Der Wiel. Michael Krohn Dehli yang mendapatkan bola liar melakukan aksi individu sebelum akhirnya melesakan ke gawang Stekelenburg.
Babak Kedua
Di babak kedua, Denmark mulai menurunkan tempo permainan. Jika di babak pertama, full back mereka ikut membantu penyerangan seperti yang terjadi pada proses gol Dehli, maka di babak kedua mereka mulai bermain lebih bertahan untuk mempertahankan keunggulan.
Kesempatan ini gagal dimanfaatkan Belanda, walaupun mereka memasukkan beberapa pemain di menit 71. Dalam pergantian ini, Ban Marwijk memasukkan dua pemain bertipe menyerang yaitu Rafael van der Vaart dan Huntelaar, menggantikan De Jong dan Ibrahim Afellay.
Pergantian ini mengubah formasi menjadi 4-4-2. Huntelaar pun diplot sebagai tandem Van Persie yang gagal menunjukan taringnya sebagai pemain depan yang produktif. Dalam pertandingan ini, Van Persie walaupun paling sering melakukan percobaan sebanyak delapan kali, tapi cuma dua tembakannya yang on goal.
Pergantian ini tidak mengubah dan menghasilkan apa-apa. Secara statistik Van der Vaart hanya menghasilkan satu shot gagal. Sedangkan Huntelaar menghasilkan 2 attempt yang menghasilkan satu shot on goal.
Walaupun Denmark terlihat tertekan di pertandingan ini, mereka sebenarnya tidak bertahan total. Mereka lebih tepat bermain secara efektif. Dari 8 attempt, mereka menciptakan 4 shot on goal, 3 shot blocked, dan 1 shot off goal.
Penyelesaian yang Buruk
Sadar Belanda akan memainkan sepakbola menyerang, Denmark bermain disiplin untuk menjaga setiap pergerakan pemain lawan. Terutama di babak kedua, "Dinamit" mencoba memperlambat tempo dan lebih banyak menunggu di lini belakang.
Kendati demikian, cara bertahan Denmark sebenarnya tidak kelewat rapat. Statistik percobaan mencetak gol yang dilakukan Belanda sebanyak 32 kali bisa dikatakan sangat tinggi. Dengan keberhasilan membuat 32 percobaan mencetak gol, berarti setiap kurang dari 3 menit Belanda berhasil menciptakanya.
Belanda jelas punya masalah serius dalam penyelesaian akhir. Padahal, semua pemain Belanda, terutama di babak II, nyaris terlibat aktif dalam penyerangan. Dari 32 percobaan, hanya 3 starter yang tidak membuat percobaan yaitu De Jong, bek Gregoey van Der Wiel dan tentu saja penjaga gawang Stakelenburg.
Lihat chalkboard di bawah ini untuk perbandingan percobaan mencetak gol Belanda dan Denmark: (sumber Four-Four-Two)
==
* Penulis adalah penikmat sepakbola di Pandit Football Indonesia. Akun twitter: @hevifauzan
( a2s / a2s )
Baca juga artikel & ulasan liputan khusus Piala Eropa di HarianDetik.com
0 comments:
Posting Komentar
Apa Pendapatmu Tentang Berita Sepakbola ini?