Setelah gantung sepatu pada tahun 2004, Conte memulai kariernya di dunia manajerial dengan menjadi asisten pelatih Siena pada musim 2005/2006. Tak berselang lama, dia menduduki kursi pelatih di Arezzo.
Petualangan Conte kemudian berlanjut ke Bari, di mana dia sukses mengantarkan klub Italia Selatan itu promosi ke Seri A pada musim 2009/2010. Sempat sebentar bekerja di Atalanta, Conte lalu berlabuh di Siena dengan prestasi promosi ke Seri A di musim 2011/2012.
Musim ini, Conte "pulang" ke Juve dan ditantang untuk mengembalikan Bianconeri ke pentas Liga Champions. Dengan Juve yang cuma menempati posisi ketujuh di musim sebelumnya, ini tentu bukan pekerjaan gampang.
Namun, Conte malah bisa melebihi ekspektasi yang dibebankan kepadanya. Pria berusia 42 tahun ini mempersembahkan scudetto ke-28 untuk The Old Lady sekaligus membawa timnya ke final Coppa Italia. Torehan unbeaten hingga giornata 37 juga jadi bukti ketangguhan Juve-nya Conte.
"Saya ingin terus berkembang, mengejutkan diri saya sendiri dan orang lain. Juventus bukanlah titik akhir. Segalanya bagi saya adalah starting point," ucap Conte yang dikutip Football Italia.
"Saya tak pernah berpikir akan jadi seorang pemain hebat, tapi saya selalu tahu bahwa saya akan jadi seorang pelatih. Saat masih bermain di tim primavera Lecce, saya sudah melatih tim saudara laki-laki saya," akunya.
"Ini adalah panggilan. Saya punya kecenderungan untuk bicara, punya metode, memimpin tim, dan membuat keputusan."
"Saya tidak berteriak di pinggir lapangan, namun saya mendengar. Dan di tengah 60 ribu orang itu jadi sulit."
"Saya selalu menjaga kontak dengan para pemain. Mereka harus merasakan keberadaan saya. Mereka tahu kalau saya selalu bersama mereka," pungkasnya.
( mfi / roz )
0 comments:
Posting Komentar
Apa Pendapatmu Tentang Berita Sepakbola ini?